Kamis, 05 April 2012

PENERJEMAHAN BAHASA JEPANG-INDONESIA




A.      Pengertian Penerjemahan
Kegiatan penerjemahan mempunyai peranan penting dalam mentransferilmu pengetahuan dan informasi di berbagai bidang kehidupan manusia, selain memberikan andil besar dalam alih teknologi, penyebaran informasi dan peningkatan sumber daya manusia.
    menerjemahkan adalah  Usaha untuk mengubah atau mengalihkan sebuah bentuk bahasa dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain dengan tidak mengubah pesan yang terkandung didalamnya, sehingga pengaruhnya terhadap pembaca bahasa sasaran menyerupai reaksi pembaca bahasa sumber.
B.      JENIS-JENIS PENERJEMAHAN
Dalam Bahasa Jepang ada 2 jenis penerjemahan yaitu:
1.       Penerjemahan Lisan  ( Tsuyaku )
2.       Penerjemahan Tulis ( Honyaku )
·         Penerjemahan secara harafiah
·         Penerjemahan secara katawi
·         Penerjemahan secara wajar
·         Penerjemahan secara bebas

C.      KESULITAN PENERJEMAHAN DARI BAHASA JEPANG KE BAHASA INDONESIA
Kesulitan utama adalah adanya perbedaan tata bahasa seperti seperti di bawah ini :
NO
UNSUR
BAHASA JEPANG
BAHASA INDONESIA
1
Sistem penulisan
·         Kanji
·         Hiragana
·         Katakana
·         Latin
2
Pola kalimat
·         Berpola MD
·         Topik/Subjek-Objek-Predikat
·         Berpola DM
·         Topik/Subjek-Predikat-Objek
3
Kata Kerja
·         Muncul diakhir kalimat
·         Muncul ditengah kalimat
4
Tingkat wacana pada kata kerja
·         Informal
·         Sopan
·         Hormat
·         Sama
5
Kata sifat
·         Berakhiran I dan Na
·         Tidak diklarifikasikan
6
Sistem gender
·         Terdapat bahasa atau ungkapan yang hanya dapat dipakai oleh wanita / pria
·          

selain itu di atas terdapat juga perbedaan-perbedaan lain seperti :
·         Simbul yang dipakai dalam ungkapan /pribahasa. Contoh,
Indonesia : sepandai-pandai tupai melompat sekali kelak akan jatuh.
Jepang : Saru mo ki kara ochiru ( kera juga jatuh dari pohon )
Kedua pribahasa di atas memiliki arti yang sama.
·         Dalam Bahasa Jepang terdapat banyak kata-kata serapan atau pinjaman ( gairaigo ) serta terminologinya cukup rumit sebagai akibat perbedaan bidang fonologi antara bahasa asing dan bahasa Jepang.


D.      PROSES PENERJEMAHAN
Proses penerjemahan dapat dibagi menjadi 3 tahap yakni;
1.       Analisis, mempelajari teks sumber, baik bentuk maupun isinya. ( analisis sintaktis, semantic dan pragmatic )
2.       Alih bahasa ( transfer ), mengganti unsure bahasa sumber dengan unsure bahasa sasaran yang sepadan.
3.       Penyerasian ( restucturing ), menyerasikan hasil terjemahan dengan kaidah dan calon pembaca bahasa sasaran.

E.       PENILAIAN DALAM PENERJEMAHAN
Pada dasarnya hasil terjemahan dapat dinilai dengan melihat makna atau isi teks dan kewajarannya dalam bahasa sasaran, Misalnya; apakah isi teks akurat atau tidak, apakah semua pesan tersampaikan atau tidak, apakah dapat dimengerti atau tidak oleh pembaca, dll.
                Ada beberapa hal yang mungkin dapat diperhatikan dalam menilai sebuah hasil terjemahan ;
1.       Menilai unsure kebahasaan yaitu unsure benar salah pada ejaan, struktur dan lain-lain.
2.       Menilai pilihan kata atau diksi.
3.       Menilai kealamiahan dan kewajaran isi teks, yaitu tidak ditambah atau dikurangi pesan yang ada didalam bahasa sumber.
4.       Menilai keterbacaan, yaitu teks terjemahan  dapat  dimengerti secara keseluruhan.
5.       Menilai kemenarikan yaitu subyektifitas yang terkait dengan taste.

F.       KESIMPULAN
Tujuan akhir dari suatu penerjemahan adalah mengalihkan makna dengan cara mengubah bentuk bahasa, dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran, tanpa mengubah atau mengurangi informasi, dinamika, suasana, tatanan wacana sehingga makna teks dalam bahasa sumber disampaikan secara utuh kedalam bahasa sasaran.                                                        
 Seorang terjemah harus menguasai teori linguistic, teori terjemahan dan kemahiran berbahasa baik bahasa sumber maupun bahasa sasaran, disamping memiliki pengetahuan yang luas tentang masyarakat, budaya, sejarah serta karakteristik masyarakat pengguna bahasa sumber yang dipadankan dengan karakteristik pengguna bahasa sasaran.